Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Peristiwa-Peristiwa Sekitar Proklamasi

May
31
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Uncategorized


Kemenangan-kemenangan Jepang pada awal Perang Pasifik membuat Jepang serasa diatas angin. Belajar dari pengalaman sekutu mulai bangkit. Kehandalah dunia Industri Amerika Serikat telah menyumbangkan berbagai peralatan militer yang canggih dan dapat diproduksi massal. Pada tahun 1944, di sejumlah medan pertempuran, Jepang menderita kekalahan telak. Pulau-pulau di Pasifik satu persatu direbut oleh pihak sekutu. Pulau Mariana, Saipan Guam, Solomon, Mid Way, Marshall dan lain-lain telah berhasil dierbut Sekutu. Kekalahan di sejumlah medan tempur tersebut telah meruntuhkan mental para tentara Jepang. Kekalahan Jepang sudah dekat.
A.     Janji September Jepang
            Berbagai ancaman terhadap Jepang dari luar negeri semakin tajam. Ini mengakibatkan terganggunya stabilitas politik dan ekonomi Jepang, yang ditandai dengan jatuhnya pemerintahan Kabinet Tojo. Pada tanggal 17 Juli 1944, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundurkan diri, ia digantikan Kuniaki Koiso. Menyadari mulai terdesaknya para tentara Jepang di medan tempur tersebut, Perdana Menteri Kuniaki Koiso berusaha keras untuk mendapatkan simpati dari Indonesia untuk membantu Jepang dalam Perang Pasifik.  Perdana Menteri Koiso juga mendapat beban berat lain yaitu mengembalikan martabat Jepang yang telah jatuh di mata negara-negara jajahan.
            Pada tanggal 7 September 1944, di depan sidang parlemen Jepang  (Teikiko Ginkai), ia memberikan janji kemerdekaan kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia. Untuk membuktikan janjinya, Jepang memperbolehkan pengibaran bendera merah putih di kantor-kantor dan instansi. Tetapi harus berdampingan dengan bendera Jepang Hinomaru. Tujuan janji tersebut adalah agar Indonesia tetap memabantu Jepang untuk memenangkan Perang Pasifik dan Sekutu tidak disambut oleh Indonesia sebagai pembebas melainkan penyerbu Indonesia yang akan merdeka.
B.     Pembentukan BPUPKI
            Perdana Menteri Koiso menepati janjinya. Pada tanggal 1 Maret 1945,  Jenderal Kumakici Harada (pemimpin pemerintah militer Jepang di Jawa) mengumumkan pembentukan suatu badan untuk menyelidiki usaha-usaha persiapan kemerdekaan Indonesia. Badan ini kemudian diberi nama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Dalam bahasa Jepangnya disebut Dokuritsu Junbi Cosakai.
            Pada tanggal 29 April 1945, bertepatan dengan ulang tahun Tenno Haika (kaisar Jepang), BPUPKI secara resmi dibentuk. Dr. K.R.T Radjiman Wediodiningrat terpilih sebagai ketuanya. Yang diangkat sebagai ketua muda adalah Icibangase (Residen Cirebon) dan R.P. Suroso (Residen Kedu). R.P. Suroso sekaligus diangkat menjadi kepala sekretariat BPUPKI. Ia dibantu oleh Toyohiko Masuda dan Mr. A.G. Pringgodigdo. Anggota BPUPKI sebanyak 67 orang, terdiri dari orang pribumi asli, Arab, Cina, sebanyak 60 orang dan 7 orang Jepang (tanpa hak suara). Pelantikan anggota BPUPKI dilakukan di gedung Co Sangi I di Pejambon, Jakarta pada tanggal 28 Mei 1945.
            Selama masa kerjanya BPUPKI telah bersidang sebanyak dua kali. Sidang pertama pada tanggal 29 Mei-1 Juni 1945 dan sidang kedua berlangsung pada tanggal 10-16 Juli 1945.
1.      Sidang BPUKI pertama (29 Mei-1 Juni 1945)
            Pada tanggal 29 Mei sampai 1 Juni 1945, BPUPKI mengadakan sidang yang pertama. Tujuan sidang adalah merumuskan dasar negara Indonesia dan merumuskan Undang-Undang Dasar. Sehubungan dengan rumusan dasar negara, ada tiga pendapat dari tiga tokoh dalam sidang, yaitu Mr. Muh. Yamin, Prof. Dr. Soepomo, dan Ir. Soekarno. Pendapat tiga tokoh itu, yaitu sebagai berikut.
a.    Mr. Muh. Yamin, pada tanggal 29 Mei 1945 mengemukakan lima asas dasar negara kebangsaan Republik Indonesia. Kelima asas itu, yaitu sebagai berikut.
a.        Perikebangsaan                                                        
b.        Perikemanusiaan
c.        Periketuhanan
d.        Perikerakyatan
e.        Kesejahteraan rakyat
b.    Prof. Dr. Soepomo, pada tanggal 31 Mei 1945 menyampaikan dasar-dasar untuk Indonesia merdeka sebagai berikut.
a.    Persatuan.
b.    Kekeluargaan.
c.    Keseimbangan lahir dan batin.
d.    Musyawarah.
e.    Keadilan rakyat.
c.    Ir. Soekarno, pada tanggal 1 Juni 1945 mengemukakan rumusan lima dasar negara Indonesia sebagai berikut.
1)   Kebangsaan Indonesia  
2)   Internasionalisme atau perikemanusiaan 
3)   Mufakat atau demokrasi
4)   Kesejahteraan sosial
5)   Ketuhanan Yang Maha Esa
            Setelah 1 Juni 1945, BPUPKI memasuki masa reses tetapi sebelum memasuki masa reses, BPUPKI membentuk Panitia Kecil yang disebut Panitia Sembilan. Anggota Panitia Kecil terdiri atas delapan orang anggota yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Kedelapan anggota tersebut, yaitu Drs. Moh. Hatta, Mr. Muh. Yamin,  Mr. Ahmad Soebardjo, Mr. A.A. Maramis, Abdulkadir Muzakir, Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, dan Abikusno Tjokro Sujoso.
            Pada tanggal 22 Juni 1945, Ir. Soekarno melaporkan hasil kerja Panitia Sembilan yang memuat rancangan asas dan tujuan Indonesia Merdeka. Dokumen hasil kerja panitia sembilan ini dikenal dengan nama Piagam Jakarta atau Jakarta Charter. Dasar negara menurut dokumen Piagam Jakarta, yaitu sebagai berikut.
a.       Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
b.       Kemanusiaan yang adil dan beradab.
c.       Persatuan Indonesia.
d.       Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
e.       (serta dengan mewujudkan suatu) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2.      Sidang BPUPKI kedua (10-16 Juli 1945)
Sidang BPUPKI yang kedua dilaksanakan pada tanggal 10–17 Juli 1945. Pembicaraan dalam sidang tersebut, antara lain, membahas tentang bentuk negara Indonesia, apakah berbentuk republik atau kerajaan; luas dan batas wilayah negara; dan menerima hasil kerja Panitia Kecil. Pada tanggal 14 Juni 1945, Ir. Soekarno melaporkan hasil kerja Panitia Perancang UUD. Hasil kerja panitia ada tiga, yaitu sebagai berikut.
a.       Pernyataan Indonesia merdeka.
b.       Pembukaan Undang-Undang Dasar.
c.       Batang Tubuh UUD.
Konsep pernyataan Indonesia merdeka disusun dengan mengambil tiga alinea pertama Piagam Jakarta dengan sisipan yang panjang sekali (terutama di antara alinea pertama dan alinea kedua). Sedangkan konsep pembukaan Undang-Undang Dasar hampir seluruhnya diambil dari alinea keempat dan terakhir Piagam Jakarta. Kedua konsep itu diterima oleh sidang setelah berlangsung diskusi kurang lebih satu jam lamanya. Atas kebesaran hati para pemimpin bangsa maka Piagam Jakarta pada sila pertama mengalami perubahan, yaitu “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”, menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.
to share...Share on FacebookShare on Google+Share on TumblrTweet about this on TwitterEmail this to someone

Komentar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Peristiwa-Peristiwa Sekitar Proklamasi

Saturday 24 December 2016 | Uncategorized

Anda Butuh Jasa Printing Batik Murah di Wonosobo ?? Hubungi Wiwin Carana 081 548 554 817. HARGA MURAH…

Monday 21 December 2015 | Uncategorized

ini mungkin rumah yang sangat pintar designernya, rumah ini hanya seluas 90an meter persegi namun rumah…

Friday 1 December 2017 | Uncategorized

BARANG LANGKA DIJUAL BUTUH KOLEKSI BARANG ANTIK yang OTENTIK? HUBUNGI – 0812.2608.1400. Kami, BARANG LANGKA DIJUAL,…

Monday 9 January 2017 | Uncategorized

Dengan semakin berkembangnya dunia arsitektur dan interior yang salah satunya adalah desain dengan sentuhan etnik yang membutuhkan…