Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Praaksara

Jun
17
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Uncategorized
Perkembangan kehidupan masyrakat praaksara berlangsung melalui beberapa tahap. 
Tahap-tahap tersebut adalah masa berburu dan meramu, masa bermukim dan bercocok tanam, dan masa perundagian.
1.    Masa Berburu dan Meramu (Food Gathering)
        Masa berburu dan meramu yaitu mencari makanan dengan mengambil apa yang telah disediakan alam.
        Masa ini dibagi menjadi dua tingkatan, yaitu sebagai berikut.
a.    Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana (tingkat awal)
        Pada masa ini manusia purba hidup dengan terus berjalan mengikuti hewan buruan dan mencari makanan di daerah-daerah yang subur dan persediaan makanannya banyak.
1)    Kehidupan sosial
        Mereka hidup secara kelompok dan berpindah-pindah, dalam kelompok mereka mengenal pembagian tugas. Kaum laki-laki berburu dan yang perempuan mengumpulkan buah-buahan dan memelihara anak-anak. Hubungan antaranggota kelompok sangat erat dan memiliki seorang pemimpin yang dihormati.
2)    Kehidupan ekonomi
        Dalam upaya memenuhi kebutuhan hidupnya sangat tergantung pada alam (food gatering). Mereka harus berpindah jika persediaan makanan di sekitarnya habis. Kebutuhan akan makanan dipenuhi dengan cara berburu hewan, menangkap ikan, dan mencari kerang di pantai. Selain itu, manusia pada masa ini mengumpulkan umbi-umbian, daun-dunan, dan biji-bijian.
3)    Kehidupan budaya
a)    Kebudayaan Ngandong
        Berkembang pada masa palaeolitikum, alat yang digunakan pasak gurdi, pisau dan alat penusuk. Alat-alat tersebut terbuat dari tulang, tanduk dan duri ikan.
b)    Kebudayaan Pacitan
        Ditemukan alat-alat, seperti kapak perimbas, kapak genggam, dan pahat genggam.
b.    Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
        Masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, manusia purba mulai tinggal di gua. Mereka berpindah jika makanan di daerah gua mereka tinggal telah menipis.
1)    Kehidupan sosial
        Hidup berkelompok di gua-gua dan jumlahnya tergantung pada besar kecilnya gua. Sudah mengenal gotong-royong dalam bercocok tanam.
2)    Kehidupan ekonomi
        Kehidupan ekonominya tergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan manusia di daerah pedalaman. Mulai menetap dan bercocok tanam.
3)    Kehidupan budaya dan kepercayaan
a)    Kebudayaan pantai
        Ditemukan Kjokkenmoddinger (dapur sampah), alat-alat yang digunakan kapak genggam, kapak pendek, batu giling, kapak pebble, zat pewarna nematite.
b)    Kebudayaan pedalaman
        Ditemukan abris sous roche (gua-gua karang). Alat-alat yang digunakan dari tulang belati, sudip, mata kail, dan penusuk (ditemukan di Jawa Timur, Bali, dan Sulawesi Selatan. Alat-alat serpih dan gundi dari batu di temukan di Sulawesi Selatan.
c)    Masyarakat mulai mengenal kepercayaan, adanya tulisan, cap tangan, dan penguburan mayat.
    (gb. kjokkenmoddinger)
2.    Masa Beternak dan Bercocok Tanam
        Pada masa ini manusia purba mulai hidup menetap dan mengusahakan tanaman. Manusia purba mulai membangun rumah secara sederhana. Rumah-rumah dibangun dengan bahan yang diambil dari alam.
a.    Kehidupan sosial
        Sudah mempunyai tempat tinggal yang tetap, kehidupan mereka semakin teratur dan terorganisasi, gotong royong dipimpin oleh seorang ketua yang berwibawa dan dipatuhi secara bersama. Ketua tersebut dikenal dengan kepala suku.
b.    Kehidupan ekonomi
        Terjadi revolusi dari food gatering menjadi food producing. Mereka mempunyai kebutuhan yang berbeda. Manusia di pegunungan mempunyai kebutuhan yang berbeda dengan manusia di pantai, sehingga mendorong munculnya pertukaran barang atau (barter). Kemudian berkembang dan menjadi pasar.
c.    Kehidupan budaya dan kepercayaan
        Alat-alat yang digunakan terbuat dari batu, tanah liat, dan tulang, contoh: kapak persegi, kapak lonjong, mata panah, gundi, pisau, gerabah, dan perhiasan. Kepercayaan berlanjut dari kepercayaan yang telah ada, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang dengan adanya peninggalan-peninggalan tugu batu.
3.    Masa Perundagian
        Masa perundagian ditandai dengan munculnya kelompok yang memiliki ketrampilan sebagai tukang atau menghasilkan barang.
a.    Kehidupan sosial
        Perkampungan sudah menjadi lebih besar, terjadi desa-desa pasar pertanian, yaitu orang-orang dari daerah pertanian melakukan perdagangan. Mulai terjadi perpindahan penduduk dari satu populasi ke populasi yang lain. Disamping itu masyarakat juga mulai membentuk organisasi sosial sederhana seperti pembagian kerja ketika mengolah tanah dan terbentuknya kelomok yang pandai dalam pembangunan rumah, dan alat-alat yang dikenal dengan undagi. Masyarakat juga mengenal politik sederhana, yaitu pemilihan dan penunjukkan kepala suku. Dalam pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan orang yang tua, kuat, dihormati, dan ditaati oleh anggota masyarakat.
        Karena mulai menetap dan bercocok tanam, manusia purba memilih daerah yang subur serta dekat dengan sumber air (sungai atau danau) untuk mendirikan permukiman. Memilih lahan yang subur tentu saja merupakan pertimbangan hasil panen, sedangkan dekat dengan sumber air dengan pertimbangan kebutuhan sehari-hari akan air serta mengairi tanaman. Hal itu mengakibatkan masyarakat mendirikan rumah dekat dengan lahan yang dijadikan tempat bercocok tanam. Dari berbagai hal diatas dapat disimpulkan pola permukiman pada masa praaksara adalah pola permukiman penduduk memusat atau mengelompok. Hal tersebut ditambah dengan cara hidup manusia purba yang mengelompok dengan saudara keturunannya.
        Permukiman terpusat (mengelompok) biasanya terjadi karena ikatan keluarga ataupun karena keadaan alam. Misalnya, penduduk mengelompok karena masih merupakan keluarga seketurunan. Permukiman terpusat juga dapat terjadi karena adanya sumber air di daerah kering. Penduduk akan mendekati sumber air tersebut. Misalnya oase di daerah gurun, penduduk akan bermukim di seputar oase tersebut.
b.    Kehidupan ekonomi
        Di samping pertaniannya menjadi berkembang, perdagangan juga mulai berkembang dan dilakukan antarpulau dengan menggunakan perahu bercadik. Karena hasil pertanian, kerajinan, dan peternakan yang setiap daerah berbeda-beda maka terjadi barter antar daerah.
c.    Kehidupan budaya dan kepercayaan
        Alat-alat yang digunakan dari perunggu dan besi. Contohnya, nekara, moko, kapak corong, arca, senjata, perhiasan, dan gerabah. Untuk pemujaan terhadap arwah nenek moyang, mereka membuat benda-benda pemujaan, antara lain menhir, dolmen, kubur batu, waruga, sarkofagus, dan punden berundak.
    Pada masyarakat praaksara pewariasan budaya (pendidikan) dilakukan dengan berbagai cara yang tidak tertulis. Hal dilakukan oleh keluarga maupun masyarakat. cara-cara yang ditempuh dalam melakukan pewarisan budaya (pendidikan) adalah dengan cerita, tingkah laku dari orang yang lebih tua, nasehat, upacara-upacara keagamaan, nyanyian, dongeng, legenda, mitos, dan praktik langsung. Pewarisan budaya seperti ini dikenal dengan folklor.

to share...Share on FacebookShare on Google+Share on TumblrTweet about this on TwitterEmail this to someone

Komentar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat Praaksara

Monday 24 July 2017 | Uncategorized

12 Tempat Wisata Unggulan di Karanganyar, Jawa Tengah, Tempat Wisata Terindah – Karanganyar merupakan sebuah kabupaten…

Wednesday 21 June 2017 | Uncategorized

Empat inisiatif Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) Indonesia berhasil meraih penghargaan World Summit on the Information…

Saturday 9 December 2017 | Uncategorized

KEBUMENĀ – Memeriahkan peringatan Maulid Nabi Muhammad saw dan Khotmil Kutub, Pondok Pesantren Al Hasani, Jatimalang, kembali…

Thursday 22 June 2017 | Uncategorized

Semeru dan Mahameru di Tahun 2013 Tidak terlintas di tahun 2013 ini untuk mendaki gunung Semeru.…