Menu
Pasang iklan SEO disini Murah, 300.000/6 Bulan dan dapatkan Trafik setiap harinya

Periodisasi Terbentuknya Muka Bumi dan Kehidupan Manusia di Dalamnya

Jun
17
2015
by : PakdheBudi Kayamara. Posted in : Uncategorized
Bumi merupakan tempat tinggal manusia. Di bumi inilah kehidupan manusia dari masa ke masa terus berjalan. Seiring dengan perkembangan kehidupan manusia yang semakin maju, manusia ingin mengetahui mengenai terbentuknya bumi. Bumi yang telah memiliki usia yang lebih lama dari kehidupan manusia membangkitkan rasa ingin tahu manusia. Manusia ingin tahu lebih dalam mengenai bumi beserta kehidupan di masa lalu. Dengan adanya ilmu geologi dan arkeologi manusia mulai mempelajari pembentukan bumi dan kehidupan di dalamnya. Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan kuno berdasarkan kebudayaan yang ditinggalkannya. Sedangkan geologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur, komposisi, dan sejarah bumi. Hasilnya adalah para ahli geolog membagi periode awal bumi dalam empat zaman sedangkan para arkeolog menyusun kehidupan pada masing-masing zaman. Para geolog juga dapat mengetahui bahwa keadaan bumi pada awal terbentuknya mengalami keadaan yang sangat ekstrim. Tenaga eksogen maupun endogen yang terjadi di bumi kala itu sangat besar hingga memperangaruhi keragaman bentuk muka bumi. 
Periodisasi Terbentuknya Muka Bumi dan Kehidupan Manusia di Dalamnya

A. Teori Terbentuknya Muka Bumi dan Kehidupan Manusia di Dalamnya
        Keberadaan bumi yang kita tempati ini dari waktu ke waktu bahkan hingga saat ini masih mengalami proses perubahan dan perkembangan. Pengetahuan terhadap bumi telah memberikan gambaran bahwa bumi pernah melewati fase cair pijar, dimana bagian terluar mengalami pengkristalan menjadi kulit bumi dan sewaktu-waktu mengalami retak, sehingga magma dapat menerobos ke permukaan. Untuk mengetahui bagaimana sejarah perkembangan bumi, berikut ini merupakan beberapa teori tentang sejarah perkembangan bumi.
1.    Teori Dua Benua (Laurasia dan Gondwana)
        Menurut para pakar ilmu bumi, sekitar 200 juta tahun yang lalu di bumi hanya ada satu benua yang sangat besar, yang disebut benua Pangaea. Karena adanya tenaga tektonik secara perlahan-lahan dalam waktu yang lama, benua Pangaea tersebut terpisah menjadi benua Laurasia di belahan bumi utara, dan benua Gondwana di belahan bumi selatan. Kedua benua ini dipisahkan oleh sebuah lautan yang disebut Laut Tethys. Selanjutnya benua Gondwana ini mengalami penurunan sehingga ke bawah permukaan air laut dan menjadi dasar Samudra Hindia. Proses seperti ini disebut proses epirogenesa.
2.    Teori Apungan Benua
        Teori apungan benua atau teori tentang pergeseran benua dikemukakan oleh Alfred Lothard Wegener pada tahun 1912 di hadapan perhimpunan ahli geologi di Frankfurt, Jerman. Teori tersebut dipopulerkan pertama kalinya dalam bentuk buku pda tahun 1915 yang berjudul Die Ensteung der Kontinen Und Ozeane (Asal usul Benua dan Lautan).
    Adapun yang mendasari teori Wegener adalah sebagai berikut.
a.    Adanya persamaan yang mencolok antara garis kontur pantai timur benua Amerika Utara dan Amerika Selatan dengan garis kontur pantai barat Eropa dan benua Afrika. Menurut teori ini kedua benua tersebut adalah daratan yang berimpitan. Hal ini juga bisa dapat dibuktikan dengan kondisi geologi di bagian-bagian tertentu di antara kedua wilayah tersebut. Formasi geologi di sepanjang pantai barat Sierra Leone sampai Tanjung Afrika Selatan, sama dengan apa yang ada di Pantai Timur Amerika, dari Peru sampai Bahia Blanca.
b.    Daerah Greenland saat ini mengalami pergerakan yang semakin menjauhi daratan Eropa dengan kecepatan kurang lebih 36 meter per tahun. Demikian pula Kepulauan Madagaskar bergerak menjauhi Afrika Selatan dengan kecepatan 9 meter per tahun. Menurut Wegener, benua-benua yang ada sekarang ini, dulu merupakan satu benua Pangaea. Bukti-bukti adanya pergerakan benua Pangaea, adalah sebagai berikut.
1)    Bentangan-bentangan samudra dan benua-benua yang mengapung sendiri-sendiri. Menurut penelitian, lempeng-lempeng benua dan lempeng samudra mengapung pada suatu lapisan yang agak cair sehingga lempeng-lempeng tersebut mudah mengalami pergeseran. Akan tetapi pergeseran yang terjadi memerlukan waktu yang relatif lama, bisa ribuan bahkan jutaan tahun.
2)    Samudra Atlantik menjadi semakin luas karena Benua Amerika masih terus bergerak ke arah barat, semakin menjauh dari Benua Afrika. Sehingga terjadi lipatan-lipatan kulit bumi yang menjadi jajaran pegunungan utara-selatan, yang terdapat di sepanjang pantai Amerika Utara bagian selatan. Hal ini bisa dilihat adanya rangkaian Pegunungan Rocky, rangkaian Pegunungan Sierra Madre, terus ke arah selatan (Amerika Latin) yaitu rangkaian Pegunungan Cordilleras de Losandes (Pegunungan Andes).
3)    Adanya kegiatan seismik (gempa bumi) yang luar biasa di sepanjang pantai barat Amerika Serikat. Hal ini bisa terjadi akibat pergerakan Benua Amerika ke arah barat menyebabkan tumbukan-tumbukan lempeng yang menimbulkan getaran gempa dan menghasilkan pegunungan lipatan sepanjang pantai barat Benua Amerika.
4)    Batas Samudra Hindia makin mendesak ke utara. Anak benua yang semula diduga agak panjang, tetapi gerakannya ke utara. Maka India makin menyempit dan makin mendekati benua Eurasia. Proses ini juga menimbulkan terjadinya Pegunungan Himalaya. Proses pergerakan lempeng Samudra Hindia masih terus berlangsung sehingga rangkaian Pegunungan Himalaya terus terangkat naik akibat adanya tumbukan lempeng Samudra Hindia dengan lempeng benua Asia-Eropa.
    Proses pemisahan kedua benua ini dapat dilihat dengan beberapa bukti antara pantai barat benua Afika dengan pantai timur benua Amerika, sebagai berikut.
a)    Terdapat persamaan jenis batuan di pantai barat benua Afrika dengan pantai timur benua Amerika.
b)    Adanya persamaan beberapa jenis tumbuh-tumbuhan.
c)    Persamaan beberapa jenis hewan.
d)    Terdapat tanggul dasar samudra di tengah Samudra Atlantik yang memisahkan kedua benua tersebut.

B. Pembagian Zaman pada Periode Awal Terbentuknya Bumi Beserta Kehidupannya
Lapisan-lapisan pada kerak bumi memiliki struktur yang berbeda-beda yang merupakan akibat kondisi alam yang berbeda-beda dari masa ke masa. Dari situ ahli geolog dapat mengetahui apa yang terjadi pada bumi. Para geolog membagi periodisasi masa awal bumi ke dalam empat zaman sebagai berikut.

Masa    Zaman    Kala    Umur
Neozoikum    Kuarter    Holosen (Alluvium)    + 20.000 tahun
        Pleistosen (Dilluvium)    + 600. 000 tahun
    Tersier
    Pliosen    + 12 juta tahun
        Miosen    + 26 juta tahun
        Oligosen    + 38 juta tahun
        Eosen    + 58 juta tahun
        Paleosen    + 65 juta tahun
Mesozoikum    Sekunder        + 140 juta tahun
Paleozoikum    Primer        + 340 juta tahun
Arkaikum            + 2.500 juta tahun

Untuk lebih jelasnya maka tabel diatas akan diuaraikan sebagai berikut.
a.    Zaman Arkaikum
Arkaikum adalah zaman tertua yang berumur ±2.500 juta tahun. Pada zaman ini kedaan bumi belum stabil akibat dari tenaga yang berasal dari dalam bumi (endogen) dan dari luar bumi (eksogen) yang sangat ekstrim. Pada saat itu kulit bumi masih panas sekali, yaitu masih dalam proses pembentukan. Dengan keadaan seperti itu maka di bumi belum ada kehidupan.
b.    Zaman Palaeozoikum (Zaman Primer)
        Zaman Palaeozoikum berlangsung kira-kira 340 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini sudah mulai ada tanda-tanda kehidupan, yaitu binatang-binatang terkecil (mikroorganisme), binatang yang tidak bertulang punggung sampai beberapa jenis ikan, amphibi, dan reptil.
        Zaman Palaeozoikum disebut juga zaman Primer karena untuk pertama kalinya terdapat kehidupan makhluk, seperti berikut.
1)    Cambrium, mulai ada kehidupan yang amat primitif, seperti kerang dan ubur-ubur.
2)    Silur, mulai ada kehidupan hewan bertulang belakang tertua, misalnya ikan.
3)    Devoon, mulai ada kehidupan binatang jenis amphibi tertua.
4)    Carbon, mulai ada binatang merayap sejenis reptil.
5)    Pern, mulai ada hewan darat, ikan air tawar, dan amphibi.
c.    Zaman Mesozoikum (Zaman Sekunder)
        Zaman Mesozoikum disebut juga zaman Sekunder (zaman Kedua). Zaman Mesozoikum berlangsung ±140 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini, kehidupan mengalami perkembangan yang sangat pesat. Kehidupan pada zaman Mesozoikum ini dapat dibagi menjadi zaman Tiras (masa ini terdapat kehidupan ikan, amphibi, dan reptil Jura masa ini terdapat reptil dan sebangsa katak) Calcium (masa ini terdapat burung-burung pertama dan tumbuhan berbunga).
**gb. teranodon
        Zaman Mesozoikum disebut juga zaman Reptil. Pada zaman Mesozoikum juga sudah muncul binatang bertubuh besar, misalnya dinosaurus, atlantasaurus, dan tyrannosaurus yang panjangnya berkisar 12–30 meter.
d.    Zaman Neozoikum atau Zaman Kainozoikum
        Zaman Neozoikum berumur ±60 juta tahun yang lalu. Pada zaman ini keadaan bumi sudah membaik, perubahan cuaca tidak begitu ekstrim dan kehidupan berkembang dengan pesat. Zaman ini dibedakan menjadi dua, yaitu zaman Tersier dan Zaman Kuarter.
1)    Zaman Tersier (Zaman Ketiga)
        Zaman Tersier dibagi menjadi beberapa kala, yaitu kala Paleosen, kala Eosen, kala Oligosen, kala Miosen, dan kala Pliosen. Pada zaman Tersier kehidupan dari jenis-jenis binatang raksasa mulai berkurang dan telah muncul binatang menyusui sejenis kera. Diperkirakan binatang menyusui sejenis kera tampak sejak kala Paleosen.
        Pada kala Miosen diperkirakan telah muncul orangutan. Binatang tersebut diduga telah muncul di Afrika. Diperkirakan pada saat itu Benua Afrika masih bersatu dengan Jazirah Arab. Selanjutnya, orang utan menyebar ke Asia Barat Daya, Asia Selatan, dan Asia Tenggara. Di akhir kala Meiosen terjadi perubahan kerak bumi yang disebabkan oleh tenaga endogen. Benua Afrika lepas dari Benua Asia dan memunculkan laut Merah. Perubahan besar-besaran di bumi yang terjadi pada kala Miosen menyebabkan daerah Afrika berubah menjadi daerah sabana. Di Jazirah Arab menjadi gurun. Orangutan yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan alam Afrika bermigrasi ke Asia Tenggara yang masih memiliki hutan lebat. Oleh karena itu, sampai sekarang kita masih melihat orangutan di pedalaman Kalimantan yang masih berhutan lebat.
        Pada kala Pliosen diduga telah hidup binatang yang lebih besar daripada gorila. Binatang tersebut disebut Giganthropus, artinya kera manusia raksasa. Binatang tersebut diduga hidup di kaki Pegunungan Himalaya dan di dekat Simla (India Utara). Binatang ini diduga hidup berkelompok, tetapi tidak jelas mengapa bisa punah.
        Pada kala Pliosen juga hidup makhluk yang disebut Australopithecus artinya manusia kera dari selatan. Ada puluhan fosil Australopithecus yang telah ditemukan di Afrika Selatan dan Afrika Timur.

2)    Zaman Kuarter
        Zaman Kuarter diduga berusia 600 ribu tahun yang lalu. Pada era Kuarter muncul dan berkembang tanda-tanda kehidupan dari manusia Praaksara. Era Kuarter dibedakan lagi menjadi dua kala, yaitu kala Pleistosen dan kala Holosen.
a)    Kala Pleistosen atau Zaman Diluvium
        Kala Pleistosen berlangsung 600 ribu tahun yang lalu. Zaman ini disebut sebagai zaman Es (Glasial). Di zaman Glasial terjadi perluasan lapisan es di  di bagian utara bumi. Hal ini menyebabkan laut di Indonesia surut dan memunculakan Paparan Sunda dan Sahul. Pada zaman ini terjadi perpindahan manusia dan fauna dari Asia ke Indonesia. Zaman interglasial ditandai dengan mulai mencairnya salju yang bertumpuk di kutub utara. Hal itu disebabkan adanya pemanasan global.
        Pada kala Pleistosen binatang berbulu tebal saja yang mampu bertahan hidup. Salah satunya adalah mamut (gajah berbulu tebal). Adapun binatang yang berbulu tipis bermigrasi ke daerah tropis yang berudara panas.
        Selain binatang yang berbulu tipis, pada saat yang sama yang diduga mengalami migrasi adalah manusia Praaksara. Mereka juga berpindah dari Asia ke Indonesia. Teori ini dibuktikan dengan adanya penemuan fosil Sinanthropus pekinnensis (manusia dari Peking) yang sejenis dengan Pithecanthropus erectus dari Trinil, Ngawi, Jawa Timur. Di kala ini juga hidup manusia purba berjenis Meganthropus palaeojavanicus. Selain itu, banyak pula ditemukan peralatan manusia Praaksara dari Kebudayaan Pacitan di Cina, Burma, dan Malaysia.
        Jenis manusia purba Meganthropus palaeojavanicus ditemukan di lapisan pleistosen tengah. Meganthropus paleojavanicus berdasarkan umur lapisan tanah tempat ditemukan diperkirakan berusia sekitar 1 sampai dengan 2 juta tahun yang lampau. Dapat disimpulkan bahwa manusia purba jenis Meganthropus paleojavanicus memiliki sifat seperti berikut.
(1)     Berbadan tegap.
(2)     Bertulang pipi tebal, tonjolan kening yang menyolok, dan tonjolan belakang kepala yang tajam.
(3)     Tidak adanya dagu.
(4)     Permukaan kunyah terdapat banyak kerut, tetapi bentuk giginya adalah hominin.
(5)     Otot kunyahnya kokoh dan geraham besar.
(6)     Makanannya jenis tumbuh-tumbuhan.
(7)     Gerahamnya menunjukkan ciri manusia, tetapi mendekati ciri-ciri kera.
(8)     Hidup pada 1 juta sampai dengan 2 juta tahun yang lalu.
            Fosil manusia purba Pithecanthropus erectus paling banyak ditemukan di In¬do-nesia. Fosil Pithecanthropus ditemukan di lapisan Pucangan dan Kabuh di daerah Mo¬jokerto, Kedung Brubus Trinil Ngawi, Sa¬ngiran, Sam¬¬bung Macan, dan di Ngandong Blora. Berdasarkan umur lapisan tanah, diper¬kirakan fosil Pithecanthropus berumur 30 ribu sampai dengan 2 juta tahun yang lam¬pau. Pithecanthropus mempunyai ciri, an¬tara lain sebagai berikut.
(1)    Berbadan tegap, tetapi tidak setegap Meganthropus.
(2)    Bertinggi badan kurang lebih 165–180 cm.
(3)    Otot pengunyah tidak sekuat Megan¬thropus.
(4)    Berhidung lebar dan berdagu.
(5)    Diduga makanannya berupa daging bi¬natang buruan dan tumbuhan.
(6)    Tonjolan kening tebal dan melintang se¬panjang pelipis.
**gb. Manusia purba sedang berburu
            Pithecanthropus, artinya manusia kera. Jenis Pithe¬canthropus yang di-temukan di Indonesia, antara lain Pithe¬canthropus mo¬jo¬kertensis, Pithecan¬thropus erectus, dan Pithecanthropus soloensis.
            Fosil Pithecanthropus mojokertensis (Manusia Kera dari Mojokerto) ditemukan pada tahun 1936 oleh G.H.R. Von Koenigswald di Perning, Mojokerto, Jawa Timur. Fosil tersebut ka¬rena ditemukan di Mojokerto maka dinamakan Pithe-canthropus mojokertensis. Fosil yang ditemukan be¬rupa tengkorak anak-anak pada lapisan Pleistosen Bawah. Fosil yang ditemukan tergolong Pithecanthro¬pus yang paling tua.
            Fosil Pithecanthropus erectus ditemukan di DesaTrinil, Ngawi, Jawa Timur (berada pada lembah aliran Sungai Bengawan Solo) pada tahun 1890 oleh ahli pur-bakala Belanda, Dr. Eugene Dubois. Fosil yang ditemukan berupa tulang rahang, bagian atas tengkorak, geraham, dan tulang kaki. Fosil tersebut setelah diteliti dan direkonstruksi ternyata membentuk kerangka manusia yang mirip kera. Pithecanthropus erectus, artinya manusia kera berjalan tegak.
            Fosil Pithecanthropus soloensis ditemukan oleh G.H.R. von Koenigswald dan Oppernorth di Ngandong, Blora dan Sangiran, Sragen. Kedua daerah tersebut berada di Lembah Sungai Bengawan Solo.
        Penemuan fosil tersebut berlangsung pada kurun waktu 1931–1933. Fosil yang ditemukan meliputi tulang tengkorak dan tulang kering. Pithecanthropus soloensis, artinya manusia kera dari Solo.Temuan pertama di Indonesia yang boleh dikatakan menjadi pangkal penyelidikan-penyelidikan selanjutnya adalah temuan Pithecanthropus erectus. Pada tahun 1890 oleh E. Dubois berhasil menemukan fosil yang diduga sebagai Pithecanthropus erectus di dekat Trinil, sebuah desa di pinggir Bengawan Solo, tidak jauh dari Ngawi, Jawa Timur.
        Pada zaman ini dihasilkan berbagai hasil kebudayaan terutama yang terbuat dari batu yang masih kasar. Hasil kebudayaan tersebut antara lain kapak perimbas, kapak genggam, dan flakes. Selain alat yang terbuat dari batu juga terdapat alat yang terbuat dari tulang.

b)    Kala Holosen atau zaman Alluvium
        Kala Holosen dimulai 20.000 tahun yang lalu. Pada awal kala Holosen, es di kutub kembali mencair dan mengakibatkan permukaan laut kembali naik. Dataran rendah di Paparan Sunda dan Sahul tergenang air dan menjadi laut trasngresi. Maka muncullah ribuan pulau di Nusantara. Pada zaman ini mulai muncul spesies Homo sapiens atau manusia cerdas. Spesies ini merupakan nenek moyang dari manusia modern. Sejak saat itu kebudayaan sebagai hasil ciptaan manusia mengalami perkembangan pesat. Spesies ini memiliki tingkat kecerdasan lebih tinggi, karena manusia purba jenis Homo memiliki volume otak yang lebih besar.
        Homo berarti manusia. Manusia purba ini memiliki ciri yang lebih sempurna dibandingkan dengan Meganthropus paleojavanicus dan Pithecanthropus erectus. Fosil manusia purba jenis ini adalah paling muda dibandingkan dengan fosil manusia purba lainnya. Ciri-ciri manusia purba jenis Homo adalah sebagai berikut.
        1)    Volume tengkorak berkisar 1000–2000 cc.
        2)    Badannya lebih tinggi, yaitu berkisar 130–210 cm dan berat badannya berkisar 30–150 kg.
        3)    Otaknya lebih berkembang.
        4)    Alat pengunyah sudah menyusut, gigi mengecil, rahang serta otot kunyah dan muka tidak begitu menonjol lagi ke depan.
        5)    Mempunyai ciri ras Mongoloid dan Austromelanesoid.
            Fosil manusia Praaksara jenis Homo yang ditemukan di Indonesia, antara lain Homo wajakensis, Homo soloensis, dan Homo sapiens.
        1)    Homo Wajakensis
            Pada tahun 1889 G.H.R. von Koenigswald menemukan fosil yang berupa ruas tulang leher dan tengkorak di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur. Temuan ini kemudian diselidiki oleh Eugene Dubois. Pada tahun 1890, Eugene Dubois menemukan fosil berupa tengkorak, rahang atas dan bawah, tulang kering, dan tulang paha di lokasi yang sama ketika ditemukan von Koenigswald.
            Fosil manusia purba tersebut kemudian dinamakan Homo wajakensis, artinya manusia dari Wajak. Homo wajakensis lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus erectus. Manusia purba jenis Homo wajakensis diduga sudah mampu membuat peralatan dari batu dan tulang yang telah halus hasilnya. Mereka juga diduga telah mengenal cara mengolah makanan.
(illustrasi manusia purba jenis Homo sapiens (sudah menggunakan pakaian dari kulit))
        2)    Homo Soloensis
            Fosil jenis Homo soloensis ditemukan pada sekitar tahun 1931–1934 oleh Ter Haar dan Oppennorth di Ngandong, Blora, Jawa Tengah pada Lembah Sungai Bengawan Solo. Fosil-fosil itu kemudian diselidiki oleh G.H.R. von Koenigswald. Fosil yang ditemukan berupa tulang tengkorak.
            Dari volume otaknya dapat diketahui bahwa fosil yang ditemukan sudah termasuk jenis manusia (Homo) bukan lagi manusia kera (Pithecanthropus). Simpulannya bahwa manusia purba tersebut lebih tinggi tingkatannya daripada Pithecanthropus erectus. Manusia purba itu kemudian diberi nama Homo soloensis.
        3)    Homo Sapiens
            Homo sapiens, artinya manusia cerdik. Homo sapiens sudah mengalami proses pengecilan pada bagian kepala dan bagian tubuh yang lain. Homo sapiens sudah mempunyai kebudayaan yang lebih tinggi daripada manusia purba lainnya.
            Mereka sudah mengenal cara bercocok tanam secara sederhana. Mereka telah ada yang tinggal di rumah panggung, namun ada juga yang masih tinggal di gua-gua. Kebudayaan yang dimiliki Homo sapiens termasuk kebudayaan Mesolitikum. Manusia purba jenis Homo ini hidup pada masa Pleistosen Atas sampai dengan masa Holosen sekitar 40.000–25.000 tahun yang lalu. Berdasarkan penemuan fosil di Ngandong oleh Ter Haar dan Oppennorth serta penyelidikan oleh von Koenigswald, disimpulkan bahwa manusia purba jenis Homo ini lebih tinggi tingkatannya apabila dibandingkan dengan jenis Pithecanthropus. Manusia purba jenis Homo yang ditemukan di Ngandong dekat Solo itu disebut Homo soloensis, artinya manusia dari Solo.
        Perkembangan keadaan alam secara global yang terjadi pada kala ini juga memengaruhi perkembangan fisik wilayah Indonesia. Misalnya, ketika salju di Kutub Utara belum mencair wilayah Indonesia bagian barat diperkirakan menyatu dengan Benua Asia. Sebaliknya, wilayah Indonesia bagian timur menyatu dengan Benua Australia. Namun, akibat pemanasan dunia, salju di Kutub Utara mencair dan mengisi wilayah Indonesia yang rendah dan memunculkan banyak pulau. Wilayah yang dahulunya menyatu dengan Asia, sekarang tergenang air disebut Paparan Sunda. Wilayah yang menjadi Paparan Sunda meliputi Sumatra, Jawa, Kalimantan, Malaysia Barat bergabung dengan Filipina dan Formosa, Taiwan, terus Benua Asia. Begitu pula Sulawesi melalui Minahasa, Pulau Sangir terus ke Filipina. Antara Jawa Timur dan Sulawesi Selatan berhubungan melalui Nusa Tenggara. Adapun wilayah Indonesia yang menghubungkan dengan daratan Australia dan tergenang air disebut Paparan Sahul.

to share...Share on FacebookShare on Google+Share on TumblrTweet about this on TwitterEmail this to someone

Komentar

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

artikel lainnya Periodisasi Terbentuknya Muka Bumi dan Kehidupan Manusia di Dalamnya

Sunday 16 July 2017 | Uncategorized

Halo sob , kali ini saya mau update dan membagikan Ngintip X.O Cafe and Bistro The…

Thursday 29 June 2017 | Uncategorized

Ketika sedang melakukan suatu perjalanan keluar dari kota asalnya lebih dari satu hari, mau tidak mau…

Thursday 20 July 2017 | Uncategorized

Halo sob , kali ini saya mau update Pembangunan Transmart Pabelan Solo di Sukoharjo untuk Juli 2017.…

Saturday 7 January 2017 | Uncategorized

Di sebuah desa hiduplah keluarga miskin yang bahagia, keluarga itu memiliki seorang anak perempuan yang cantik.…